Tuesday, August 20, 2013

Pentingnya Wanita Menuntut Ilmu

Pada sesama, “Perhatikan apa yang dikatakan, tak perlu kau lihat siapa pengucapnya.”
Tapi untuk diri, “Sudah seharusnya tiap kita melayakkan diri untuk didengar.”
-Salim A. Fillah-


Pentingnya Wanita Menuntut Ilmu

Mengapa harus berilmu/Menuntut Ilmu?
Karena.. tidaklah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.
Allah berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" TQS. Az-Zumar (39): 9

Karena.. Allah tinggikan derajat orang2 yang berilmu.
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” TQS. Al-Mujadillah (58): 11

Karena.. hanya yang berilmu-lah yang takut pada Allah.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah)” TQS.  Faathir (35): 28

Karena.. ilmu dapat menjaga diri kita, bahkan sebagian mukminin di anjurkan tidak semuanya berperang, tapi ada yang memperdalam ilmu agamanya.
“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” TQS. At-Taubah (9): 122

Karena akan Allah mudahkan jalannya ke surga
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mudahkan jalan ke surga baginya.” HR. Muslim

Begitulah Allah mengapresiasi orang-orang yang berilmu, bahkan sampai menyebutkan bahwa tidak seharusnya semua mukminin itu pergi berperang, tapi harus ada yang tinggal untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.

Apalagi jika menuntut ilmu syar’i/agama
Orang yang di kehendaki baik oleh Allah akan diberi pemahaman yang baik tentang agama.
Mu’awiyah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya di beri pemahaman agama yang mendalam oleh-Nya” H.R. Bukhari-Muslim

Bagaimana dengan wanita yang menuntut ilmu?
Telah kita temui, sedemikian banyak para wanita yang faqih (ahli fiqh/yang mengerti) dalam ilmu agama. Salah satunya adalah Ummahatul Mukminin, Aisyah R.A, Istri Rasulullah, Muhammad SAW. Yang menjadi rujukan dalam masalah agama setelah sepeninggalnya Nabi. Darimana beliau belajar? Dari suaminya, Rasulullah Muhammad SAW.

Bagi yang sudah berumah tangga, begitu juga. Tugas seorang suami adalah membimbing istri-nya dalam memahami agama. Atau jika ia tidak bisa/kurang mampu dalam menyampaikan, bisa dengan cara menghadirkan sumber ilmu, seperti majalah, buku, kaset/dvd atau bahkan memfasilitasi istrinya (anak dan keluarganya) dalam menuntut ilmu dalam kajian2 atau majelis ilmu.

Maka dalam Islam, wanita diperbolehkan memilih ikhwan (laki-laki) yang sekufu (sebanding). Ada beberapa pendapat ulama tentang ini, tapi yang terkuat adalah sekufu dalam hal agama.

Seperti kita ketahui, berdasarkan sabda Nabi SAW, wanita itu dinikahi berdasarkan 4 perkara: kecantikan, harta, status sosialny, dan juga karena agamanya. Lalu Nabi melanjutkan, carilah yang baik agamanya maka engkau akan beruntung dan berbahagia.
Minimal sama dalam agama, namun lebih baik laki-laki lebih baik agamanya, karena laki-laki kelak akan menjadi imam dalam keluarga, yang salah satu tugasnya adalah membimbing istrinya.

Bagaimana dengan laki-laki? Menurut para ulama, ini tidak berlaku pada laki-laki. Karena laki-laki tugasnya membimbing istri, tak mengapa istri di bawah atau sama dengannya.
Pada masa Rasulullah, para wanita saking iri dengan ilmu para lelaki, karena para lelaki selalu bersama Rasulullah, jika ada kajian mereka yang terdepan dan pasti paling mudah mendengar dengan seksama dan jelas, juga bisa bertanya langsung.

Maka mereka (para wanita) sampai mengutus orang untuk menyampaikan yang mereka rasakan. Haus akan ilmu syar’i. Hal ini di rekam oleh Bukhari.
“Wahai Rasulullah, kami dikalahkan oleh kaum lelaki untuk bertemu denganmu, karena itu sediakanlah bagi kami hari tertentu untuk bertemu denganmu!” 
Intinya laki-laki telah mendominasi dalam kebersamaan dengan Rasulullah dalam hal ilmu/majelis ilmu.
“Lalu Rasulullah SAW menyediakan bagi mereka suatu hari tertentu, khusus guna bertemu dengan mereka, dan menyampaikan perintah-perintah kebaikan kepada mereka”. HR. Bukhari

Sehingga bisa di simpulkan, suatu hari Nabi mengkhususkan untuk mengajari wanita dalam hal agama.

Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika wanita menuntut ilmu di luar rumah. Yakni menjaga dirinya. Salah satunya adalah dengan tidak tabarruj, atau menjaga aurat, dan lain sebagainya.
Sekarang sebenarnya lebih mudah, para wanita juga  bisa mendapat ilmu dari buku, internet, video, dll.

Wanita yang mengajarkan kebaikan & ilmu
Bunda Aisyah RA dan istri Rasulullah yang lain memiliki majelis ilmu di rumah mereka di mana mereka mengajarkan berbagai hal dan meriwayatkan banyak hadis dari balik kain tabir (hijab). Tetapi bagi yang selain mereka –dimana pendapat yang lebih kuat menyatakan tabir tidaklah wajib bagi selain Ummahatul Mukminin- kita dapati contoh berikut ini: Sebuah pelajaran praktikum.

Dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dia berkata, “Ali bin Husain pernah mengutusku kepada ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz untuk menanyakan tentang cara wudhu Rasulullah karena beliau SAW pernah berwudhu di sampingnya. Ar-Rubayyi’ mengeluarkan sebuah bejana berukuran satu mud, lalu berkata, “Seukuran inilah aku mengambilkan air untuk beliau pakai berwudhu” (H.r. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir, sanadnya hasan menurut Ibnu Qahthan dan Al-Albani menyepakatinya)

Motivasi dalam menyampaikan kebaikan & Ilmu
Dari Abu Hurairah RA,  Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengajak orang lain untuk mengikuti petunjuk, niscaya akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang menikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa  yang mengajak kepada kesesatan, maka ia juga turut berdosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” HR. Muslim

Oleh karena itu, seorang wanita hendaknya punya semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu. Karena Ilmu Allah SWT luas. Dan juga karena tugasnya menjadi seorang ibu, bukanlah menjadi alasan untuknya merasa cukup dengan pendidikan yang sudah di dapat, tapi menjadi motivasi bahkan cambukan agar bisa menjadikan anaknya orang hebat karena rumahnya dipenuhi dengan ilmu dan ibu menjadi sumber ilmu pertama bagi anaknya. ;)

Salam ukhuwah,
@ella_githu

Di compile (susun) dari berbagai sumber:
Ringkasan Riyadush Shalihin
Bahagianya Merayakan Cinta -- Salim A. Fillah
Kajian Pentingnya wanita menuntut ilmu syar’I (Al Ustadz Ibnu Yunus Abu Abdirrahman Fiqih Haid Dan Nifas)

Reactions:

0 komentar:

Post a Comment

Comment