Sudah lama sekali rasanya ingin menuliskan cerita ini. Saking lamanya, kayaknya udah banyak yang lupa-lupa jadi harap maklum jika ada redaksi yang tidak sama atau agak berbeda, he".Cerita sewaktu saya mengikuti bedah buku DDU (Dalam Dekapan Ukhuwah) pada Islamic Book Fair Maret lalu. Meski datang terlambat karena keasyikan melihat-lihat dan memilih-milih buku diskon tapi rasanya tetap banyak yang saya dapatkan. Saat itu ternyata yang membedah buku DDU bukan hanya ust. Salim tapi juga ust. Ferry Nur (silahkan dikoreksi jika salah). DDU di bedah dengan sangat detail sekali oleh ust. Ferry Nur. Latar belakang beliau yang ‘concern’ dengan Palestina membuat acara bedah buku itu lebih hidup. Seperti yang beliau katakan (saya agak lupa redaksinya)bahwa sebenarnya Palestina itu jauh lebih sejahtera daripada Indonesia. Why? Karena memang disana para relawan ‘All Out’, sehingga sekolah gratis, makanan gratis itu sudah biasa disana. Meski terkadang (bahkan sering) pasokan itu pun sulit untuk mereka dapatkan karena Zionis Israel sudah menghalalkan segala cara untuk menyulitkan mereka untuk mendapatkan bantuan dari para donatur. Tapi lagi-lagi mereka itu jauh lebih merdeka daripada kita di Indonesia. Mereka merdeka dari hawa nafsu mereka sendiri dan seharusnya seperti itulah pribadi muslim.
Merdeka dari hawa nafsunya. Disana, kita lihat bahkan anak kecil saja, jiwa untuk berjihadnya sudah muncul. Hal ini dapat kita lihat dari keberanian anak-anak ini menghalau tank-tank Israel atau melawan tentara Israel hanya dengan batu padahal tentara Israel menggunakan senapan yang sudah tentu tak sebanding dengan batu. Berbeda sekali dengan kondisi anak Indonesia yang seumuran mereka di palestina. Jika anak-anak Indonesia seumuran mereka sedang asyik nonton spongebob atau bermain game, anak Palestina sedang berjuang mati-matian melawan tentara Israel, bahkan seumuran mereka sudah banyak yang hafidz dan hafizhoh. Seharusnya kita tidak aneh dengan hal ini karena jika kita membaca lagi Sirah Nabawiyah maka akan kita dapatkan cerita anak-anak yang juga seperti anak Palestina sekarang. Saat perang Uhud, Rafi’ bin khudaij dan Samurah bin Jundab, keduanya berusia lima belas tahun, meminta kepada Rasulullah SAW untuk ikut serta dalam peperangan ini. Karena terlalu muda, Rasulullah menolak termintaan tersebut. Setelah dijelaskan kepada beliau bahwa Rafi’ ahli memanah, Rasulullah SAW membolehkannya. Samurah bin Jundab pun kemudian menghadap Rasul seraya berkata, “Demi Allah, Aku bisa membanting Rafi’.” Rasulullah pun membolehkannya juga. Saya takjub membaca ini. Anak umur lima belas tahun yang memiliki kesiapan mati dalam peperangan yang kita tahu sangat tidak seimbang. Kaum Muslimin jumlahnya tidak lebih dari 700 tentara dan kaum Musyrikin jumlahnya lebih dari 3.000 orang.
Dalam Sirah-nya. Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi menyebutkan, “Sulit sekali bagi orang yang bersikap objektif untuk menghindari suatu aksioma yang menegaskan bahwa munculnya kesiapan untuk menghadapi kematian seperti terlihat pada fenomena anak-anak tersebut (Samurah bin Jundab dan Rafi’ bin Khudaij) adalah karena dorongan keimanan yang telah menguasai hati dan hasil mahabbah terhadap Rasulullah SAW. Bila iman dan mahabbah ini telah terbentuk, kesiapan itu pasti akan muncul. Sebaliknya, bila iman dan mahabbah itu tidak ada atau lemah, jangan diharap kesiapan tersebut akan muncul.” Sehingga dari kutipan di atas kita telah memperoleh jawaban dari pertanyaan mengapa sifat anak Palestina berbeda dengan anak Indonesia kebanyakan.
Ada kalimat Ust. Salim yang sangat menginspirasi saya (meski tidak sama persis redaksinya) bahwa dakwah itu adalah hikmah. Dakwah itu tidak selalu kita ceramah, dsb. Hikmah itu adalah…. Ketika Ibu sahabat kita meninggal, hikmah itu mungkin adalah bantuan dana untuk membiahyai pemakaman dan ambulans-nya. Atau saat kita di pengungsian merapi, hikmah itu bukan saat kita memberi ceramah atau mentausiahi mereka, melainka hikmah itu adalah bantuan makanan, pakaian, kesehatan dan segala apapun yang mereka butuhkan. Itulah hikmah yang utama. Jika itu telah terpenuhi maka hikmah-hikmah lain bisa kita ‘masukkan’ setelahnya. Entah itu pengingatan akan takdir Allah dan sebagainya. Kita mungkin masih ingat kasus murtadnya seseorang karena dua bungkus indomie. Sedih sekali mendengarnya. Sehingga saya berharap, ketika ada musibah apapun yang terjadi, berharap saudara seiman lah yang mengulurkan bantuannya terlebih dahulu sehingga tidak akan kita dengar lagi kasus-kasus menyedihkan tadi. Mungkin hal ini juga yang menjadi motivasi sahabat-sahabat kita seperti yang ada di PKPU, Rumah Zakat, Mer-C, KNRP dan sebagainya. Tiba-tiba ada rasa takjub pada mereka yang dengan ikhlas (semoga Allah senantiasa menjaga keiklasan mereka) dan ‘All Out’ terjun untuk langsung membantu jika ada bencana atau ada saudara kita yang memerlukan bantuan bahkan non-muslim sekali pun (seperti bantuan untuk Tsunami Jepang kemarin, dsb).
Lalu saat diskusi, saya ingat sekali, ada pertanyaan seperti ini, “Ada seseorang yang dulunya sangat memusuhi sehingga kesalahannya itu sangat sulit untuk di maafkan. Mungkin bisa saya ibaratkan seperti Hindun membelah perut –bahkan ada yang menyebutkann bahwa di ambil hatinya- dan mengiris hidung serta telinga Hamzah. Tidak bisa di maafkan sebenarnya. Meski setelah itu Hindun pun masuk Islam. Nah, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana sikap orang tersebut, meski seharusnya saya bisa bersikap biasa-biasa saja dan memafkan tapi sifat manusiawi saya berat untuk melakukan itu?”. Waduh… tapi saya afak lupa jawaban ust. Salim apa sewaktu itu. Jawabannya apa ya Ustadz? He”. Sepertinya jawabannya adalah dengan meningkatkan keimanan kita karena keimanan kita akan berimbas pada interaksi kita kepada sesama. Lalu mencoba dengan memaksimalkan hati untuk bisa ikhlas memaafkan dengan mengingat bahwa Allah saja mau memaafkan hamba-hamba-Nya yang berdosa lantas apa layaknya kita yang sesame hamba untuk tidak memaafkan saudara kita? Semoga jawaban ini benar (tolong di koreksi jika ustadz. Salim membaca ini).
Lalu ada lagi pertanyaan dari akhwat lagi, “Dari yang saya dengar tadi, DDU ini hanya membahas tentang yang indah-indah saja dalam ukhuwah Rasul dengan para sahabatnya. Jujur, saya juga belum membacanya. Tapi yang ingin saya tanyakan adalah apakah ada saat-saat ukhuwah (Rasul dan Sahabat) itu tidak terasa ‘manis’ saja?”. Dengan senyum ust. Salim menjawab bahwa tentu saja ukhuwah Rasul dan para Sahabat tidak selalu manis. Jika kita buka lagi Siroh maka kita lihat bagaimana kisah bunda Aisyah dengan ‘Ali. Hal ini karena sewaktu nabi ‘curhat’ kepada ‘Ali tentang Aisyah (kalau tidak salah ini tentang peristiwa Ifki) maka untuk menghibur perasaan sedih Rasul, “ali pun mengatakan, “Sudahlah ya Rasul, masih banyak wanita lain selain ‘Aisyah..” konon kalimat ‘Ali ini di dengar oleh ‘Aisyah sehingga ada sedikit rasa tidak suka dengan ‘Ali. Hal ini yang menyebabkan sebagian hadist yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah jarang menyebutkan ‘Ali seperti saat Nabi berjalan dengan ‘Ali dan satu lagi sahabatnya tetapi ‘Aisyah hanya menyebutkan nama sahabat yang satu lagi tersebut sedangkan ‘Ali di gambarkan dengan “seorang pemuda lagi yang tubuhnya kecil”. Namun, sebagai umatnya, kita hanya bisa berprasangka baik. Mungkin saja ‘Aisyah benar-benar tidak mengenali bahwa pemuda itu adalah ‘Ali karena mungkin tubuhnya yang kecil tertutupi oleh tubuh Rasul dan satu sahabat lagi yang agak besar. Lalu ada lagi kiah di tegurnya Rasul. Hal ini tentu sangat kita ingat karena Allah abadikan dalam surat ‘Abasa. Ya, saat nabi sedang semangat-semangatnya ingin berdakwah kepada petinggi sehingga kedatangan Ummi Maktum ini di anggap pada saat yang kurang tepat. Lalu ketika Umar protes kepada Rasulullah karena tidak ridha dengan perjanjian Hudaibiyah. Umar memprotes Rasulullah dengna keras. Ia juga meminta kesepakatan dengan orang-orang Quraisy itu dipertimbangkan lagi karena perjanjian ini merugikan umat Islam.
Lalu ada lagi kisah Abu Dzar dengan Bilal. Seperti yang ustadz Salim ceritakan dalam DDU. “Injak kepalaku ini hai Bilal! Kumohon injaklah!” Abu Dzar Al-Ghifari meletakkan kepalanya di tanah berdebu. “Kumohon injaklah kepalaku!” rintihnya, “Injaklah wajahku. Demi Allah aku berharap dengannya Allah mengampuniku dan menghapus sifat jahiliyah dari jiwaku.” Abu Dzar ingin sekali menangis. Isi hatinya campur aduk. Dia menyesal. Takut. Sedih. Marah pada dirinya sendiri. Sayang, Bilal terus menggeleng dengan mata berkaca-kaca.
Peristiwa itu memang berawal dari kesalahan Abu Dzar pada Bilal. Dia merasa Bilal tak mengerjakan sebuah amanah dengan utuh, bahkan seakan membuat alasan untuk membenarkan dirinya sendiri. Abu Dzar kecewa dan, saying, dia tak dapat menahan diri. Dari lisannya terlontar kata-kata kasar. Abu Dzar sempat berteriak melengking, “Hai anak budak hitam!”.
Rasulullah yang mendengar hardikan Abu Dzar pada Bilal itu memerah wajahnya. Dengan bergegas bagai petir menyambar, beliau menghampiri dan menegur Abu Dzar. “Engkau!” sabdanya dengan telunjuk mengarah ke Abu Dzar, “sungguh dalam dirimu masih terdapat jahiliyah!”
Maka Abu Dzar yang dikejutkan hakikat dan disergap rasa bersalah itu serta-merta bersujud dan memohon Bilal menginjak kepalanya. Beulang-ulang dia memohon. Tapi Bilal tetap tegak mematung. Dia marah, tapi juga haru. “Aku memaafkan Abu Dzar, Ya Rasulullah,” kata Bilal. “Dan biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah, menjadi kebaikan bagiku kelak.”
Hati Abu Dzar terasa perih mendengar itu. Alangkah lebih ringan andai semua bisa ditebus di dunia. Alangkah tak nyaman menelusiri sisa umur dengan rasa bersalah yang tak terlupakan. Demikianlah Abu Dzar, shahabat Rasulullah yang mulia.
Mungkin ceritanya sampai di sini dulu. Khawatir ‘mengarang bebasnya’ akan lebih banyak kalo di tambahin lagi, he”.

0 komentar:
Post a Comment
Comment