Monday, February 21, 2011

Tegar di Jalan Dakwah

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah kepada Allah, mengerjakan amal shaleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” TQS. Fushshilat: 33

Sesungguhnya dakwah adalah tugas yang sangat mulia. Tugas warisan para nabi dan Rasul saw. Seperti ayat diatas, Allah menegaskan bahwa tidak ada perkataan yang lebih baik daripada menyeru ke jalan Allah.

Problematika internal aktivis dakwah

“Apakah manusia mengira mereka sedang dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? Sesungguhnya Kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang-orang yang berdusta.” TQS. Al-Ankabut: 2-3

Problematika yang di hadapi para aktivis dakwah di medan dakwah terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Disini hanya akan diungkapkan beberapa hal yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, dan merupakan kendala yang bersifat internal, yaitu:

1. Gejolak kejiwaan

a. Gejolak syahwat

b. Gejolak amarah

c. Gejolah heroisme

d. Gejolak kecemburuan

2. Ketidakseimbangan aktivitas

a. Ketidakseimbangan antara aktivitas ruhiyah dengan aktivitas lapangan

b. Ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dan di luar rumah tangga

c. Ketidakseimbangan antara aktivitas pribadi dengan organisasi

d. Ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi

e. Ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM

Adapun penyebab dari ketidakseimbangan di atas antara lain: pola kerja infiradiyah (Single Fighter) sehingga yang terjadi adalah cepat lelah, lemahnya perasaan mas’uliyah (perasaan tanggungjawab), kesalahan cara pandang tentang dialektika “mana yang harus di utamakan” atau “mana yang lebih penting”, kesalahan dalam membuat perhitungan tentang kondisi kader, dan pembagian tugas yang buruk atau tidak merata (amanah menumpuk di salah seorang kader yang dianggap mampu menyelesaikan amanah tersebut). Sehingga keseimbangan dalam segala sesuatu harus di perhatikan.

Para aktivis dakwah semestinya memiliki kehidupan ruhiyah yang mantap, sehingga kerja-kerja teknis keseharian tidak membauatnya merasa kering dan gersang . Hanya mereka yang kuat kehidupan ruhiyahnya sajalah yang terbebas dari kejenuhan. Para aktivis dakwah harus memiliki waku khusus untuk meringankan beban-beban dakwahnya, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah swt.

Para Nabi terdahulu senantiasa mengadukan permasalahan yang di hadapinya kepada Allah. Nabi Nuh a.s. amat merasakan berat beban yang beliau emban menghadapi umat, seperti yang terekam dalam Alqur’an:

“Nuh berkata, “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam maka seruanku itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari ke dalam telinganya dan menutup bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesunguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka dengan terang-terangan dan dengan diam-diam…” TQS. Nuh: 5-9

Selain dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, aktivis dakwah juga harus menempuh jalan keluar yang bersifat manajerial untuk keluar dari masalah ketidakseimbangan tadi. Hal ini dapat di tempuh dengan musyawarah, pertimbangan yang utuh menyeluruh dan partisipasi aktiv dari aktivis tersebut.

3. Latar belakang dan masa lalu

4. Penyesuaian diri

5. Friksi internal

Kita tidak mendahulukan membahas problematika yang bersifat eksternal, mengingat yang menjadi problem terberat justru kendala internal. Untuk itu, para aktivis dakwah harus mampu menyelesaikan dan mengelola kendala internal dalam dirinya terlebih dahulu, agar bias optimal menunaikan amanah dakwah.

Problematika Eksternal Dakwah

Begitu banyak problematika eksternal yang ada, dari mulai yang di Indonesia sampai yang global di Internasional, dari problematika moral, spiritual, cultural, kemiskinan dan banyak lagi. Sehingga perlu penyikapan yang bijak dan cerdas oleh aktivis dakwah.

Daya Tahan di Medan Dakwah

Bagi para aktivis dakwah Islam, tantangan yang muncul dari musuh-musuh Islam itu justru sebagai penambah semangat berjuang. Jumlah yang sedikit tidak membuat para pejuang fii sabilillaah gentar menghadapi serbuan musuh yang jumlahnya berlipat ganda. Di perang Badar, 313 pasukan muslim mengalahkan 1.000 pasukan kuffar. Waktu perang Damsyik (Damaskus), 24.000 pasukan muslim melawan 180.000 pasukan Romawi. Di perang Hunain, 12.000 pasukan Islam menghadapi 30.000 musuh. Bahkan yang terjadi di Mut’ah 3.000 pasukan Islam berhadapan dengan 200.000 pasukan Romawi yang di bantu sekutu-sekutunya.

Apakah yang sebenarnya yang dimiliki prajurit muslim sehingga mereka mampu bertahan berjuang di jalan Allah? Apa kunci keberhasilan mereka? Apa factor yang membuat daya tahan mereka begitu prima di medan perjuangan?

Pertanyaan ini selayaknya dijawab tepat oleh para aktivis dakwah, untuk pelajaran dalam melangkah di jalan dakwah. Apakah mereka menang karena banyaknya jumlah pasukan dan lengkapnya persenjataan? Bisa dipastikan, tidak! Apakah mereka menang karena kekuatan harta dan melimpahnya sarana-sarana perang? Ini pun tidak! Bukankah cukup menjadi pelajaran bagi para aktivis dakwah kini bahwa mereka menang semata-mata karena pertolongan Allah swt., lantaran kesanggupan dan kelurusan perjuangan yang dilakukan. Kesungguhan perjuangan yang mereka tampakkan lewat daya tahanyang luar biasa dalam menghadapi penderitaan dan kesulitan di medan juang.

Ada beberapa factor yang perlu dimiliki para aktivis dakwah agar mampu konsisten berjuang di jalan Allah, sepanjang hidupnya. Ada lima factor paling tidak, jalan untuk merealisir daya tahan di medan dakwah tersebut, yaitu: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan solidaritas struktur. Tentu saja masih banyak factor lainnya yang berperan dalam upaya meraih daya tahan di medan dakwah. Namun, lima factor di atas kita prioritaskan untuk mendapatkan pembahasan dan perhatian.

Yang Tegar di Jalan Dakwah

Jika ada aktivis dakwah dicaci maki banyak kalangan, di fitnah dengan tuduhan keji, dilukai tubuhnya, ditangkap, dan di penjara, diusir dari tanah kelahiran, dibunuh karakternya disebabkan oleh dakwah yang dilakukan, hendaklah senantiasa bersikap sabar. Karena sesungguhnya itu adalah bagian dari tanda kecintaan Allah swt. Pada aktivis dakwah.

Kuncinya ada pada kita, wahai aktivis dakwah muslim! Kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj Rasulullah saw., dan keyakinan akan janji-janji-Nya, semua menjadi titik penentu dalam gerak perjuangan kita menerjang berbagai macam badai yang menghantam. Sejarah hanya mencatat keharuman mereka yang ikhlas dalam perjuangan, dan para aktivis gerakan Islam, yang tegar di jalan dakwah.


0 komentar:

Post a Comment

Comment